Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemaknaan Kurikulum Merdeka sebagaimana dipahami oleh 10 guru dan 40 siswa sekolah dasar (SD) yang berlokasi di Kecamatan Buleleng. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dikolaborasikan dengan metode fenomenologi. Dalam penelitian difokuskan pada pengalaman subjektif para pelaku pendidikan dalam menerapkan kurikulum tersebut. Data diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara yang dilakukan secara mendalam dilengkapi dengan observasi partisipatif, dan juga analisis dokumen. Kemudian data yang diperolah dilakukan analisis secara mendalam dengan menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini berhasil mengungkap tiga tema utama yang saling berkaitan satu sama lain. Pertama, Kurikulum Merdeka dimaknai sebagai ruang kebebasan pedagogis yang memberi fleksibilitas dalam mendesain pembelajaran yang sesuai konteks dan realitas siswa. Kedua, pelaksanaannya masih berhadapan dengan tantangan, terutama terkait keterbatasan pemahaman konsep, minimnya pelatihan, serta kesiapan yang belum merata. Ketiga, kurikulum ini mendorong pergeseran relasi antara guru dan siswa menuju pola interaksi yang lebih setara, dialogis, dan manusiawi. Temuan ini menunjukkan, bahwa makna Kurikulum Merdeka tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman, konteks institusional, dan dinamika sosial di ruang kelas. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan sistemik dan refleksi pedagogis dalam memastikan implementasi kurikulum yang bermakna dan berkelanjutan di SD Kecamatan Buleleng.
Copyrights © 2025