Kuala Parek Village, located in a coastal area with a public tourist beach, boasts various village assets and ecosystems that generate natural resources. As one of the oldest villages in East Aceh Regency, Kuala Parek Village has significant coastal potential. However, the village faces challenges in coastal area management and regional development, particularly related to spatial information technology. This technology is already commonly used in addressing integrated coastal area planning and management. The urgency of this research is to conduct mapping that can provide a clear picture of village potential, natural resources/ecosystems, and village assets that can support sustainable development. The purpose of this community service is to conduct participatory mapping training activities to review current village boundaries. This is useful for facilitating partners in implementing integrated coastal area management. The methods used include mapping training involving the community and field mapping surveys. The results obtained show an increase in community skills in understanding regional mapping, the ability to operate Google Earth for location determination, and improved capacity in identifying village potential related to coastal area management. Through surveys conducted to review village boundaries and potential, village governments have become more enthusiastic about remapping existing community resources. This is because participatory mapping can provide accurate information from the community by incorporating geospatial data.Desa Kuala Parek, yang terletak di kawasan pesisir dengan pantai wisata yang terbuka untuk umum memiliki berbagai aset-aset desa, dan ekosistem yang menghasilkan sumber daya alam. Sebagai salah satu desa tertua di Kabupaten Aceh Timur, Desa Kuala Parek ini memiliki potensi desa di bidang kepesisiran. Namun, desa ini menghadapi tantangan dalam hal pengelolaan wilayah desa pesisir dan aspek manajemen pengembangan daerah yang bersifat teknologi informasi spasial. Teknologi ini sudah umum dalam mengatasi perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Urgensi penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan yang dapat memberikan gambaran yang jelas tentang potensi desa, sumber daya alam/ekosistem, serta aset desa yang dapat mendukung pembangunan berkelanjutan. Tujuan dari pengabdian ini adalah melakukan kegiatan pelatihan pemetaan secara partisipatif dalam meninjau kembali batas-batas desa terkini. Hal ini bermanfaat untuk memudahkan mitra dalam melakukan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Metode yang digunakan yaitu pelatihan pemetaan yang melibatkan masyarakat serta survei pemetaan di lapangan. Hasil yang didapatkan dari berupa adanya peningkatan terhadap kemampuan masyarakat dalam pemahaman terhadap pemetaan daerahnya, dapat mengoperasikan google earth untuk penentuan lokasi, dan terkait pengelolaan wilayah pesisir dalam mengidentifikasi potensi desa. Melalui kegiatan survei dalam peninjauan kembali batas dan potensi desa, pemerintah desa menjadi lebih antusias dalam melakukan pemetaan kembali sumber daya yang ada di masyarakat. Hal ini dikarenakan pemetaan partisipatif mampu memberikan informasi yang akurat dari masyarakat dengan menyesuaikan data geospasial.
Copyrights © 2026