Krisis pengelolaan sampah di kawasan perkotaan seringkali bersumber dari ketiadaan infrastruktur yang memfasilitasi perubahan perilaku masyarakat. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis deskriptif ini bertujuan mengeksplorasi persepsi masyarakat terhadap ketersediaan infrastruktur pengelolaan sampah di Kota Makassar. Melibatkan 24 informan dari Kecamatan Panakkukang dan Manggala melalui purposive sampling, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan model interaktif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi negatif dan skeptisisme masyarakat berakar kuat pada defisit infrastruktur fisik dan inkonsistensi pelayanan publik, yang termanifestasi dalam tiga konklusi utama. Pertama, inisiasi pemilahan sampah rumah tangga mengalami stagnasi akibat ketiadaan sarana pewadahan terpilah dan minimnya literasi lingkungan di struktur sosial terbawah. Kedua, ketidakandalan frekuensi armada pengangkut memicu krisis kepercayaan yang mendorong praktik penanganan maladaptif seperti pembakaran terbuka dan pembuangan ilegal. Ketiga, optimalisasi Bank Sampah terhambat oleh aksesibilitas; meskipun insentif material efektif memancing minat warga, jarak fasilitas yang jauh mengubah partisipasi menjadi beban. Disimpulkan bahwa niat baik partisipasi masyarakat tidak akan terwujud menjadi perilaku pro-lingkungan yang menetap tanpa adanya reformasi tata kelola yang mendekatkan infrastruktur fisik ke dalam ekosistem sosial warga.
Copyrights © 2026