Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang ditandai dengan gangguan persepsi, emosi, dan perilaku, serta sering disertai halusinasi pendengaran dan harga diri rendah yang berdampak pada penurunan fungsi psikososial. Data World Health Organization (2022–2023) menunjukkan sekitar 23 juta orang mengalami gangguan jiwa berat, sementara di Indonesia terjadi peningkatan kasus dari 315.621 pada tahun 2023 menjadi 668.608 pada tahun 2024, dengan dominasi skizofrenia. Kondisi ini menuntut intervensi keperawatan yang komprehensif, termasuk pendekatan nonfarmakologis seperti terapi aktivitas kelompok dan terapi menggambar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan terapi aktivitas kelompok dan terapi menggambar dalam asuhan keperawatan jiwa pada pasien skizofrenia. Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pretest–posttest pada enam klien di RSJ Daerah Provinsi Lampung. Intervensi meliputi terapi aktivitas kelompok dan terapi menggambar yang diberikan secara terstruktur. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan pengukuran sebelum serta sesudah intervensi. Hasil menunjukkan penurunan signifikan intensitas halusinasi pendengaran, yaitu pada Ny. A dari skor 26 menjadi 13 (50%) dan Ny. L dari 20 menjadi 7 (65%). Pada klien dengan harga diri rendah, skor Tn. O menurun dari 68 menjadi 20 (70,59%) dan Tn. I dari 63 menjadi 20 (68,25%). Selain itu, terjadi peningkatan harga diri pada Tn. J dari 15 menjadi 29 dan Tn. C dari 12 menjadi 28 berdasarkan Rosenberg Self-Esteem Scale. Kesimpulannya, penerapan terapi aktivitas kelompok dan terapi menggambar efektif dalam menurunkan halusinasi pendengaran serta meningkatkan harga diri pasien skizofrenia secara signifikan, sehingga dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan jiwa berbasis nonfarmakologis.
Copyrights © 2026