Penelitian ini menganalisis penggunaan alih kode dan campur kode dalam interaksi mahasiswa dwibahasawan di grup WhatsApp. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data berupa tangkapan layar percakapan empat mahasiswa yang diperoleh melalui teknik simak dan catat, kemudian dianalisis berdasarkan bentuk serta fungsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih kode muncul karena pergeseran konteks komunikasi, khususnya dari situasi santai ke formal saat penyampaian informasi akademik. Sementara itu, campur kode lebih sering digunakan dalam situasi santai untuk mempererat hubungan, menunjukkan identitas sosial, dan menciptakan komunikasi yang lebih akrab. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa bersifat fleksibel dan adaptif dalam komunikasi digital.
Copyrights © 2026