Kecerdasan emosional (emotional intelligence/EI) telah lama dipandang sebagai faktor penting dalam keberhasilan individu. Namun, perdebatan teoritis masih berlangsung terkait dimensi EI mana yang paling berperan dalam pengambilan keputusan, khususnya pada situasi berisiko tinggi. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis temuan empiris penelitian Sambol, Suleyman, dan Ball (2025) mengenai peran kecerdasan emosional berbasis kemampuan (ability emotional intelligence) dalam pengambilan keputusan afektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dengan menganalisis artikel jurnal psikologi dan pendidikan yang relevan, serta membandingkannya dengan teori-teori EI sebelumnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecerdasan emosional tidak berfungsi sebagai konstruk tunggal yang homogen. Dimensi kemampuan memahami emosi diri sendiri (understanding emotions) terbukti memiliki pengaruh paling signifikan terhadap kualitas pengambilan keputusan yang adaptif dan strategis, terutama dalam kondisi tekanan dan ketidakpastian. Temuan ini menantang pandangan populer yang menekankan kemampuan interpersonal sebagai inti EI, serta menegaskan pentingnya kecakapan intrapersonal dalam konteks pengambilan keputusan. Secara pedagogis, artikel ini menekankan perlunya integrasi pendidikan kecerdasan emosional yang berfokus pada refleksi diri, kesadaran emosi, dan pengelolaan tekanan psikologis sebagai bagian dari pengembangan karakter peserta didik. Dengan demikian, kecerdasan emosional berbasis kemampuan perlu ditempatkan sebagai kompetensi inti dalam kebijakan dan praktik pendidikan kontemporer.
Copyrights © 2025