Lanskap diplomasi global di tengah disrupsi era digital mengalami transformasi radikal dari pendekatan state-centric kaku menuju diplomasi "polilateral". Fenomena ini mengaburkan batas antara promosi komersial dan misi negara, serta menempatkan aktor non-pemerintah seperti komunitas diaspora dan pelaku industri kreatif sebagai ujung tombak pencitraan bangsa. Artikel ini mengeksplorasi sinergi strategis antara disiplin manajemen bisnis, khususnya Integrated Marketing Communication (IMC), dengan diplomasi kebudayaan guna meningkatkan daya saing produk kebudayaan Indonesia di pasar internasional.Studi ini menerapkan metode Narrative Literature Review komprehensif terhadap 15 artikel jurnal dan laporan strategis terindeks Google Scholar, SINTA, dan SCOPUS (2015–2026) yang mengidentifikasi disparitas strategi tajam. Gastrodiplomasi Indonesia telah mapan dengan narasi kuat, sedangkan diplomasi wastra (Textile Diplomacy) masih tertinggal akibat pendekatan seremonial yang gagal mengkonversi nilai filosofis menjadi gaya hidup relevan bagi audiens global. Analisis tematik menyoroti pergeseran peran diaspora menjadi frontline messengers aktif yang mampu melakukan "penerjemahan budaya" sebagai bentuk praktik Soft diplomasi, serta tuntutan media sosial akan "identitas hibrida" perpaduan harmonis antara motif etnik lokal dan estetika modern. Sintesis literatur tersebut mendasari usulan kerangka kerja implementatif bernama "Pola Lokal". Model ini mengadopsi pendekatan manajemen SOSTAC (Situation, Objectives, Strategy, Tactics, Action, Control) untuk mentransformasi promosi budaya abstrak menjadi kampanye terukur. Penerapan struktur ini memungkinkan aset budaya visual dikelola layaknya ekuitas merek global, memastikan diplomasi budaya Indonesia berjalan efektif, sistematis, dan berdampak ekonomi nyata.
Copyrights © 2026