Pesantren berperan penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia, tidak hanya sebagai pusat transmisi ilmu agama, tetapi juga sebagai lembaga pembinaan moral masyarakat. Palembang, sebagai salah satu pusat dakwah di Sumatera Selatan, melahirkan banyak lembaga pendidikan Islam, termasuk Pondok Pesantren Ar-Riyadh 13 Ulu yang berdiri pada 1973. Penelitian ini muncul karena masih minimnya kajian historis jangka panjang mengenai pesantren di Palembang, padahal Ar-Riyadh telah mengalami berbagai fase perkembangan, mulai dari Orde Baru, Reformasi, hingga era digitalisasi. Penelitian bertujuan untuk mengkaji sejarah berdirinya, dinamika perkembangan fisik dan kelembagaan, serta peran sosial, politik, dan budaya pesantren hingga 2025. Metode yang digunakan adalah metode sejarah melalui empat tahapan utama, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data penelitian diperoleh melalui studi pustaka, dokumen pesantren, serta wawancara dengan pimpinan dan guru, dengan tambahan pendekatan sosiologi dan antropologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren ini didirikan oleh Habib Abdurrahman bin Abdullah Al-Habsyi dengan tradisi keilmuan Hadramaut. Awalnya, bangunan pesantren masih sederhana dari kayu, namun berkembang menjadi gedung modern berkat dukungan masyarakat dan bantuan luar negeri. Jumlah santri terus meningkat hingga 2025 dengan kurikulum yang memadukan tradisi kitab kuning dan kurikulum nasional. Pesantren juga berperan sebagai lembaga dakwah, sosial, dan budaya, dengan kontribusi alumni yang nyata bagi masyarakat. Temuan ini menegaskan kemampuan Ar-Riyadh untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas tradisional.
Copyrights © 2026