Artikel ini bertujuan menganalisis perbandingan kebijakan pengembangan petani muda di Indonesia dan Thailand dalam merespons menurunnya partisipasi generasi muda di sektor pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan desain dan efektivitas kebijakan kedua negara dengan menggunakan perspektif kebijakan publik komparatif dan difusi kebijakan. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap artikel jurnal internasional bereputasi yang membahas kebijakan petani muda di Indonesia dan Thailand, dilengkapi dengan analisis dokumen kebijakan nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa Thailand menerapkan instrumen kebijakan yang lebih langsung dan material, seperti dukungan finansial, modernisasi teknologi pertanian, serta integrasi kebijakan pertanian dengan pembangunan perdesaan dan teknologi digital. Sebaliknya, kebijakan pengembangan petani muda di Indonesia masih didominasi oleh instrumen non-material berupa penyuluhan, pelatihan, dan sosialisasi yang relatif kurang efektif dalam mengatasi hambatan struktural, seperti keterbatasan akses lahan, modal, dan pendapatan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan kerangka difusi kebijakan untuk menjelaskan kesenjangan efektivitas kebijakan pengembangan petani muda antara Indonesia dan Thailand, dua negara agraris di Asia Tenggara dengan karakteristik sosial ekonomi yang relatif sebanding. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada literatur kebijakan publik dan tata kelola pertanian dengan menekankan pentingnya desain instrumen kebijakan dalam mendorong regenerasi petani.
Copyrights © 2026