Era digital telah mengubah pola komunikasi remaja di Indonesia, dengan WhatsApp sebagai platform dominan (penetrasi 91,7%). Intensitas penggunaan yang tinggi memfasilitasi interaksi sosial, namun berisiko menimbulkan gangguan tidur akibat Fear of Missing Out (FoMO) dan paparan cahaya biru. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh intensitas komunikasi interpersonal melalui WhatsApp terhadap kualitas tidur siswa SMP Amaliah dengan FoMO sebagai variabel mediator. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif eksplanatori dengan sampel 209 siswa (usia 12–16 tahun) yang dipilih melalui teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala intensitas WhatsApp (alpha=0,85), FoMO Scale (alpha=0,87), dan Sleep Quality Scale (alpha=0,92). Teknik analisis data meliputi analisis deskriptif, korelasi Pearson, regresi linear, dan uji mediasi PROCESS Macro Model 4 dengan bootstrap 5.000 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan WhatsApp berada pada kategori tinggi (mean 3,87–4,16), FoMO tinggi (mean 4,10), dan kualitas tidur tergolong rendah (skor SQS 65,2). Ditemukan hubungan positif yang signifikan antara X-M (r=0,414), X-Y (r=0,412), dan M-Y (r=0,363). FoMO terbukti berperan sebagai mediator penuh (full mediation) dengan efek tidak langsung sebesar 0,0881 (CI [0,0380, 0,1611]). Temuan ini menunjukkan bahwa intensitas komunikasi WhatsApp memengaruhi kualitas tidur siswa sepenuhnya melalui jalur FoMO. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan literasi digital di sekolah dan pembatasan penggunaan gawai pada malam hari.
Copyrights © 2026