Diskursus agensi perempuan dalam masyarakat muslim kontemporer sering kali terjebak dalam dikotomi antara fatalisme teologis dan emansipasi sekuler, di mana praktik domestikasi sering kali membatasi otoritas masa depan perempuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi nilai-nilai Islam sebagai instrumen penguat agensi perempuan melalui tokoh Haia dalam novel Laut Tengah karya Berliana Kimberly. Menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan hermeneutika Gadamerian-Ricoeurian, penelitian ini membedah data melalui parameter Rub’ul Munjiyat Al-Ghazali (ikhtiar, sabar, tawakal, dan takdir). Hasil penelitian menunjukkan adanya rekonstruksi terhadap paradigma fatalisme melalui representasi tokoh yang aktif secara intelektual dan spiritual. Nilai ikhtiar bermanifestasi sebagai resistensi spasial dan agensi intelektual, sementara sabar dan tawakal berfungsi sebagai instrumen regulasi diri (self-regulation) serta terapi jiwa (soul therapy) dalam menghadapi tekanan struktural. Penelitian ini menyimpulkan bahwa religiusitas dalam novel tersebut tidak hadir sebagai belenggu dogmatis, melainkan fondasi etis yang memungkinkan perempuan mengonstruksi otoritas dirinya di tengah restriksi sosial. Temuan ini berkontribusi pada penguatan diskursus sastra berbasis nilai Islam yang progresif dan transformatif sebagai solusi atas problem subordinasi perempuan.
Copyrights © 2026