Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Representasi Nilai Islam Al-Ghazali sebagai Penguat Agensi Tokoh Perempuan dalam Novel Laut Tengah: Kajian Hermeneutika Latifa, Azzahra Sindhi; Khasanah, Iswatun; ’Azmi, Safira Mufida; Hidayah, Ismi Nur; Ariyanti, Suci
Narasi: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/narasi.v4i1.5977

Abstract

  Diskursus agensi perempuan dalam masyarakat muslim kontemporer sering kali terjebak dalam dikotomi antara fatalisme teologis dan emansipasi sekuler, di mana praktik domestikasi sering kali membatasi otoritas masa depan perempuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi nilai-nilai Islam sebagai instrumen penguat agensi perempuan melalui tokoh Haia dalam novel Laut Tengah karya Berliana Kimberly. Menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan hermeneutika Gadamerian-Ricoeurian, penelitian ini membedah data melalui parameter Rub’ul Munjiyat Al-Ghazali (ikhtiar, sabar, tawakal, dan takdir). Hasil penelitian menunjukkan adanya rekonstruksi terhadap paradigma fatalisme melalui representasi tokoh yang aktif secara intelektual dan spiritual. Nilai ikhtiar bermanifestasi sebagai resistensi spasial dan agensi intelektual, sementara sabar dan tawakal berfungsi sebagai instrumen regulasi diri (self-regulation) serta terapi jiwa (soul therapy) dalam menghadapi tekanan struktural. Penelitian ini menyimpulkan bahwa religiusitas dalam novel tersebut tidak hadir sebagai belenggu dogmatis, melainkan fondasi etis yang memungkinkan perempuan mengonstruksi otoritas dirinya di tengah restriksi sosial. Temuan ini berkontribusi pada penguatan diskursus sastra berbasis nilai Islam yang progresif dan transformatif sebagai solusi atas problem subordinasi perempuan.
DESENTRALISASI KEKUASAAN DAN KEBERLANJUTAN PERADABAN: STUDI HISTORIOGRAFIS ATAS DINASTI-DINASTI ISLAM TIMUR Latifa, Azzahra Sindhi; Manshur, Hamim Sirojuddin Al; Sari, Fina Thazha Eka; Imamma, Arifah Nur; Istiqomah, Aginra Falah; Hakiman, Hakiman
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.10257

Abstract

ABSTRACT The post-Abbasid period is often framed as a phase of decline due to the weakening of political authority in Baghdad. However, this perspective does not fully capture the dynamics in the eastern regions, which in fact experienced significant developments across various domains. This study aims to examine the role of political decentralization as a transformative mechanism that sustained the continuity of Islamic civilization during this period. It employs a qualitative approach based on library research, utilizing a historiographical-critical analysis of recent academic sources. The focus is placed on the dynamics of regional dynasties in the eastern Islamic world that contributed to changes in political, intellectual, and cultural structures. The findings indicate that the decline of central authority did not lead to stagnation, but instead facilitated the emergence of new centers that were active in advancing knowledge, economic activity, and religious life. Decentralization enabled a balance between political authority and religious legitimacy, while also expanding intellectual networks through local patronage and cultural adaptation. These findings suggest that the post-Abbasid period is more appropriately understood as a phase of adaptive transformation, characterized by the restructuring of power, diversification of civilizational centers, and socio-cultural integration. Accordingly, this study contributes to strengthening a resilience perspective in Islamic historiography, emphasizing continuity rather than decline. ABSTRAK Periode pasca-kejayaan Abbasiyah sering diposisikan sebagai fase kemunduran akibat meredupnya otoritas politik di Baghdad. Perspektif tersebut belum sepenuhnya menjelaskan dinamika di kawasan Timur yang justru menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai bidang. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran desentralisasi kekuasaan sebagai mekanisme transformasi yang menopang keberlanjutan peradaban Islam pada periode tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis historiographical-critical terhadap berbagai sumber akademik mutakhir. Fokus kajian diarahkan pada dinamika dinasti-dinasti regional di kawasan Timur yang berkontribusi dalam perubahan struktur politik, intelektual, dan kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melemahnya pusat kekuasaan tidak mengakibatkan stagnasi, melainkan mendorong lahirnya pusat-pusat baru yang aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan praktik keagamaan. Desentralisasi memungkinkan terbentuknya keseimbangan antara otoritas politik dan legitimasi religius, sekaligus memperluas jaringan keilmuan melalui patronase lokal dan adaptasi budaya. Temuan ini menegaskan bahwa periode pasca-Abbasiyah lebih tepat dipahami sebagai fase adaptive transformation yang ditandai oleh restrukturisasi kekuasaan, diversifikasi pusat peradaban, dan integrasi sosial-budaya. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat perspektif resilience dalam historiografi Islam yang menekankan kesinambungan, bukan kemunduran.
DESENTRALISASI KEKUASAAN DAN KEBERLANJUTAN PERADABAN: STUDI HISTORIOGRAFIS ATAS DINASTI-DINASTI ISLAM TIMUR Latifa, Azzahra Sindhi; Manshur, Hamim Sirojuddin Al; Sari, Fina Thazha Eka; Imamma, Arifah Nur; Istiqomah, Aginra Falah; Hakiman, Hakiman
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.10257

Abstract

ABSTRACT The post-Abbasid period is often framed as a phase of decline due to the weakening of political authority in Baghdad. However, this perspective does not fully capture the dynamics in the eastern regions, which in fact experienced significant developments across various domains. This study aims to examine the role of political decentralization as a transformative mechanism that sustained the continuity of Islamic civilization during this period. It employs a qualitative approach based on library research, utilizing a historiographical-critical analysis of recent academic sources. The focus is placed on the dynamics of regional dynasties in the eastern Islamic world that contributed to changes in political, intellectual, and cultural structures. The findings indicate that the decline of central authority did not lead to stagnation, but instead facilitated the emergence of new centers that were active in advancing knowledge, economic activity, and religious life. Decentralization enabled a balance between political authority and religious legitimacy, while also expanding intellectual networks through local patronage and cultural adaptation. These findings suggest that the post-Abbasid period is more appropriately understood as a phase of adaptive transformation, characterized by the restructuring of power, diversification of civilizational centers, and socio-cultural integration. Accordingly, this study contributes to strengthening a resilience perspective in Islamic historiography, emphasizing continuity rather than decline. ABSTRAK Periode pasca-kejayaan Abbasiyah sering diposisikan sebagai fase kemunduran akibat meredupnya otoritas politik di Baghdad. Perspektif tersebut belum sepenuhnya menjelaskan dinamika di kawasan Timur yang justru menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai bidang. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran desentralisasi kekuasaan sebagai mekanisme transformasi yang menopang keberlanjutan peradaban Islam pada periode tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis historiographical-critical terhadap berbagai sumber akademik mutakhir. Fokus kajian diarahkan pada dinamika dinasti-dinasti regional di kawasan Timur yang berkontribusi dalam perubahan struktur politik, intelektual, dan kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melemahnya pusat kekuasaan tidak mengakibatkan stagnasi, melainkan mendorong lahirnya pusat-pusat baru yang aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan praktik keagamaan. Desentralisasi memungkinkan terbentuknya keseimbangan antara otoritas politik dan legitimasi religius, sekaligus memperluas jaringan keilmuan melalui patronase lokal dan adaptasi budaya. Temuan ini menegaskan bahwa periode pasca-Abbasiyah lebih tepat dipahami sebagai fase adaptive transformation yang ditandai oleh restrukturisasi kekuasaan, diversifikasi pusat peradaban, dan integrasi sosial-budaya. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat perspektif resilience dalam historiografi Islam yang menekankan kesinambungan, bukan kemunduran.