Ketahanan pangan merupakan isu strategis di kawasan Asia Tenggara, terutama bagi Indonesia yang menghadapi tantangan dalam ketersediaan dan stabilitas pangan nasional. Thailand, sebagai eksportir beras terbesar di kawasan, menjadi mitra penting dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Indonesia dalam menjalin kerja sama pangan dengan Thailand serta kontribusinya terhadap stabilitas pangan di Asia Tenggara. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan memanfaatkan data sekunder dari jurnal ilmiah, laporan lembaga internasional, dan publikasi resmi ASEAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama Indonesia–Thailand tidak hanya mencakup perdagangan beras, tetapi juga kolaborasi teknis dalam riset pertanian, transfer teknologi, dan mekanisme cadangan beras regional seperti ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR). Strategi diplomasi pangan Indonesia mencerminkan sinergi antara diplomasi ekonomi, pembangunan, dan kemanusiaan yang berorientasi pada keberlanjutan dan solidaritas kawasan. Implementasi kerja sama ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan ketersediaan dan stabilitas pangan nasional, serta memperkuat integrasi kebijakan pangan di ASEAN. Dengan demikian, kerja sama Indonesia–Thailand dapat menjadi model kolaborasi regional dalam mewujudkan sistem pangan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di Asia Tenggara.
Copyrights © 2026