Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi digital yang membawa dampak negatif signifikan terhadap mental dan karakter peserta didik, seperti munculnya fenomena social comparison, kecemasan digital (FOMO), hingga degradasi moral. Fokus penelitian ini adalah menganalisis peran guru Akidah Akhlak dalam membangun mental positif siswa di era digital di MTs Walisongo Sukajadi, Lampung Tengah, sebuah madrasah berbasis pesantren yang menerapkan aturan ketat larangan membawa Handphone. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam dengan kepala madrasah, guru Akidah Akhlak, guru BK, dan siswa, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Akidah Akhlak menjalankan peran strategis sebagai filter moral, pembimbing spiritual, dan motivator melalui metode keteladanan (uswah hasanah) serta pembiasaan rutin keagamaan seperti tadarus dan shalat dhuha. Sinergi antara guru Akidah Akhlak dan guru Bimbingan Konseling (BK) terbukti efektif dalam membangun resiliensi mental siswa, di mana guru Akidah Akhlak memberikan fondasi spiritual (iman) sementara guru BK memberikan pendampingan psikologis. Simpulan penelitian menegaskan bahwa internalisasi nilai-nilai qanaah dan tawakal mampu mentransformasi rasa iri akibat pengaruh media sosial menjadi mental positif, sehingga siswa tetap memiliki kontrol diri dan fokus belajar meskipun hidup di tengah arus digitalisasi yang masif.
Copyrights © 2026