Stres kerja merupakan salah satu permasalahan kesehatan kerja yang dapat berdampak pada kondisi fisik, psikologis, serta produktivitas pekerja. Lingkungan kerja industri seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan operasional tinggi, sistem kerja shift, beban kerja besar, dan risiko kelelahan kerja yang berpotensi meningkatkan stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor–faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja operasional PLTU di Desa Semaran, Kecamatan Pauh, Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja operasional PLTU sebanyak 50 orang dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk mengukur stres kerja, NIOSH Workload Questionnaire untuk beban kerja, KAUPK2 untuk kelelahan kerja. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja mengalami stres kerja pada kategori sedang hingga tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja dengan stres kerja (p < 0,001) dan kelelahan kerja dengan stres kerja (p < 0,001). Sementara itu, beban kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan stres kerja (p = 0,513). Shift kerja dan kelelahan kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat stres kerja pada pekerja operasional PLTU, sedangkan beban kerja tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Pengelolaan sistem shift yang seimbang serta pengendalian kelelahan kerja menjadi aspek penting dalam upaya menurunkan risiko stres kerja pada pekerja
Copyrights © 2026