Artikel ini menganalisis cerpen "Lelaki yang Menderita Bila Dipuji" karya Ahmad Tohari melalui lensa pendekatan ekspresif dan pragmatik guna mengungkap kritik terhadap budaya haus validasi. Di tengah masyarakat kontemporer yang cenderung mengejar pengakuan sosial, tokoh Mardanu hadir sebagai antitesis yang memandang pujian sebagai beban eksistensial. Dengan menggunakan landasan teoretis dari buku Pengantar Pengkajian Kesusastraan (Abdurahman, 2023), penelitian ini membedah bagaimana visi pribadi pengarang (pendekatan ekspresif) mencerminkan daya kontemplatif dalam menyikapi pergeseran nilai kemanusiaan. Lebih lanjut, analisis pragmatik digunakan untuk melihat bagaimana teks ini berfungsi sebagai ruang refleksi bagi pembaca modern untuk melakukan konkretisasi makna terhadap fenomena pencarian identitas melalui apresiasi eksternal. Hasil analisis menunjukkan bahwa resistensi Mardanu terhadap pujian bukan sekadar bentuk kerendahan hati ekstrem, melainkan sebuah kritik tajam terhadap "polusi suara" sosial yang mengancam ketenangan batin. Melalui perpaduan kedua pendekatan ini, artikel ini menyimpulkan bahwa karya Tohari tetap relevan sebagai instrumen kritik sosial terhadap tirani validasi di era digital, sekaligus menawarkan redefinisi kebahagiaan yang berbasis pada integritas internal daripada pengakuan publik.
Copyrights © 2026