Kepiting bakau (Scylla sp.) merupakan salah satu komoditas perikanan dari kelompok krustase yang memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Saat ini, sebagian besar produksi kepiting bakau dihasilkan melalui penangkapan di alam (Syah et al., 2024). Permasalahan yang sering dialami dalam budidaya kepiting bakau adalah ketersediaan benih, ketersediaan pakan, kualitas media budi daya dan molting (Khairunnisa et al., 2023). Penelitian ini akan dilaksanakan mulai tanggal 29 Juli 16 September 2024 yang berlokasi di Balai Besar Perikanan Budi Daya Air Payau (BBPBAP) Jepara menggunakan analisis data uji kimia,uji fisika,uji biologis dengan metode pengumpulan data primer dan skunder. Hasil dari Uji proksimat dari setiap perlakuan yang diberi kode huruf. Huruf A untuk protein 35.10%, huruf B untuk protein 45.34%. Hasil analisis uji fisik yang dilakukan pada pakan dengan protein berbeda yaitu protein 35.10% dan protein 45.34%. hasil uji biologis dari pakan buatan berbahan baku lokal dengan protein berbeda pada parameter daya pikat didapatkan nilai tercepat mendapatkan respon dari kepiting adalah pada perlakuan B waktu ke 73 menit dengan daya lezat sebesar 4 g dari 14 g. Sedangkan yang terlama mendapatkan respon dari kepiting adalah perlakuan A pada waktu 97 menit dengan daya lezat sebesar 7 g dari 14 g. simpulan Dari kesimpulan ini hasil pada pembuatan formulasi pakan dengan frekuensi protein yang berbeda menujukan bahwa formulasi pakan dilakukan dengan memperhitungkan kebutuhan nutrisi yang tepat.
Copyrights © 2025