Children's interaction patterns with digital gadgets tend to be individualistic, which significantly influences the development of their verbal and nonverbal communication skills. During gadget use, children frequently utilize body language and facial expressions as part of their interactive experience. In terms of linguistic development, gadgets can serve as a double-edged sword; they may facilitate the expansion of vocabulary and improve language imitation skills through educational content, yet they simultaneously pose a risk of diminishing the frequency of direct, face-to-face social interactions if usage remains unsupervised. This research aims to analyze the specific interaction patterns of children aged 3–4 years within the context of gadget use at KB Tunas Jaya, with a primary focus on both verbal and nonverbal communication dimensions. A qualitative research methodology was employed, involving in-depth interviews with parents to gain a comprehensive understanding of home-based digital habits. The findings reveal that children utilize gadgets for a diverse range of activities, including consuming video content, engaging in interactive games, and participating in digital learning exercises. However, the study emphasizes that the mere presence of technology is insufficient for positive growth. Therefore, active mediation and consistent guidance from both teachers and parents are critically required to ensure that gadget use is integrated into the child’s environment in a way that optimally supports their overall communication development. Without such intervention, the potential for social isolation and communication delays increases, highlighting the necessity for balanced digital literacy from an early age. Pola interaksi anak dengan perangkat gawai (gadget) cenderung bersifat individualistik, yang secara signifikan memengaruhi perkembangan kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal mereka. Saat berinteraksi dengan gawai, anak-anak sering kali menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah tertentu sebagai bagian dari pengalaman interaktif mereka. Dalam aspek linguistik, penggunaan gawai dapat berfungsi sebagai pedang bermata dua; di satu sisi, perangkat ini dapat membantu memperkaya kosakata dan meningkatkan kemampuan meniru bahasa melalui konten edukatif, namun di sisi lain berpotensi mengurangi frekuensi komunikasi langsung secara tatap muka apabila penggunaannya tidak diawasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam pola interaksi anak usia 3–4 tahun dalam konteks penggunaan gawai di KB Tunas Jaya, dengan fokus utama pada dimensi komunikasi verbal dan nonverbal. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada orang tua untuk mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai kebiasaan digital anak di rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak menggunakan gawai untuk berbagai aktivitas, seperti menonton konten video, bermain permainan interaktif, dan mengikuti latihan pembelajaran digital. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa kehadiran teknologi saja tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan yang positif. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan aktif dan bimbingan konsisten dari guru serta orang tua untuk memastikan bahwa penggunaan gawai terintegrasi dalam lingkungan anak dengan cara yang mendukung perkembangan komunikasi mereka secara optimal. Tanpa intervensi tersebut, risiko isolasi sosial dan hambatan komunikasi meningkat, sehingga literasi digital sejak dini menjadi sangat krusial.
Copyrights © 2026