Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena penggunaan istilah viral “Rizz”, “Skibidi”, dan “Sigma” di kalangan Generasi Alpha, dengan fokus pada pengalaman subjektif, konstruksi makna, dan dampaknya terhadap komunikasi serta interaksi sosial. Metode kualitatif fenomenologi diterapkan melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipatif, dan dokumentasi terhadap 6 partisipan berusia 10–13 tahun di Jakarta Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah-istilah tersebut dikenal melalui media sosial (TikTok, YouTube) dan interaksi teman sebaya, dengan variasi makna seperti “karisma”, “humor”, dan “identitas kelompok”. Penggunaan istilah viral berperan dalam mempererat hubungan sosial melalui fungsi humor dan ekspresi identitas, meskipun dampaknya bersifat situasional dan bergantung pada konteks individu. Temuan ini menguatkan peran teknologi digital dan dinamika sosial dalam membentuk variasi bahasa baru, sekaligus mengungkap kesenjangan pemahaman antargenerasi antara anak dan orang tua. Penelitian ini menekankan pentingnya literasi digital lintas generasi untuk menjembatani perbedaan persepsi serta mendukung komunikasi yang adaptif di era digital. Implikasi praktisnya adalah perlunya pendampingan orang tua dan pendidik dalam memahami perkembangan bahasa anak sebagai bagian dari identitas budaya kontemporer.
Copyrights © 2026