Organisasi ITHLA (Ittihadu Thalabah al-Lughah al-'Arabiyyah) berfungsi sebagai forum strategis dalam mendukung pengembangan kompetensi akademik dan non-akademik siswa melalui berbagai kegiatan bahasa terstruktur yang memfasilitasi penguatan kemampuan berbahasa siswa sekaligus membangun lingkungan belajar yang mendukung praktik berbahasa secara berkelanjutan. Peneliti melihat bahwa fungsi organisasi ITHLA dapat berkontribusi pada pengembangan pembelajaran bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk: Pertama , mendeskripsikan fungsi organisasi ITHLA dalam mendukung pengembangan pembelajaran bahasa Arab pada siswa. Kedua , mendeskripsikan hambatan-hambatan yang dihadapi organisasi ITHLA dalam melaksanakan kegiatannya. Ketiga , mendeskripsikan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh organisasi ITHLA dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe fenomenologi. Subjek penelitian adalah ketua umum ITHLA dan empat informan tambahan yang dipilih secara purposif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Validasi data menggunakan teknik triangulasi dan sumber. Analisis data mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian tentang perumusan masalah pertama menunjukkan bahwa Organisasi ITHLA memiliki tiga fungsi dalam pengembangan pembelajaran bahasa Arab; Pertama, fungsi pendidikan , yang dapat dilihat dari kegiatan bahasa, seperti seminar internasional dan Kamp Bahasa Arab. Kedua, fungsi akademik yang dapat dilihat dari kompetisi bahasa, seperti debat, khitobah, kuis qiraat, infografis, dan film pendek. Ketiga, fungsi praktis yang dapat dilihat dari seluruh rangkaian kegiatan di kamp bahasa Arab yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan penggunaan bahasa Arab secara langsung, dan membentuk lingkungan berbahasa Arab. Dalam perumusan masalah kedua, terlihat bahwa terdapat hambatan yang disebabkan oleh beberapa faktor; Pertama, faktor internal, hambatan ini dapat dilihat dari keterbatasan waktu pelaksanaan, kurangnya tingkat aktivitas, konsistensi kehadiran peserta, dan kelelahan yang dialami peserta. Kurangnya anggota aktif yang tidak merata dan keterbatasan dana. Dua faktor eksternal , hambatan ini terlihat dari gangguan jaringan internet dalam kegiatan berbasis daring. Dalam perumusan masalah ketiga, terlihat bahwa dalam upaya mengatasi hambatan yang muncul, organisasi menerapkan strategi adaptif melalui penyusunan jadwal yang lebih fleksibel, serta penyediaan alternatif teknis seperti jaringan cadangan. Peningkatan keaktifan dan disiplin dilakukan melalui pendekatan persuasif, pendampingan, dan koordinasi intensif.
Copyrights © 2026