Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis akulturasi budaya dalam memperkuat fungsi edukatif pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan masyarakat. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), artikel ini membedah dialektika antara teks keagamaan dan realitas sosiokultural melalui kacamata teori akulturasi dan konsep pribumisasi Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa akulturasi budaya bukan sekadar strategi bertahan, melainkan instrumen pedagogis yang efektif dalam membumikan ajaran Islam. Pesantren mengintegrasikan unsur-unsur budaya universal—seperti penggunaan bahasa daerah dalam metode makna gandul, tradisi komunal tahlilan sebagai hidden curriculum kecerdasan sosial, serta etiket unggah-ungguh—sebagai media transformasi nilai yang melampaui sekadar transmisi pengetahuan intelektual. Sinergi antara nilai syariat dan kearifan lokal ini terbukti memperkuat fungsi edukatif pesantren secara holistik, mencakup dimensi religius, sosial, dan moral. Dengan demikian, pendidikan berbasis akulturasi budaya di pesantren berhasil melahirkan insan yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus ketahanan sosial yang inklusif, sehingga tetap relevan dalam menghadapi dinamika perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri budayanya.
Copyrights © 2026