Membuka platform digital ternyata tidak otomatis membuat merek batik dikenal dan dipercaya orang. Di balik kemudahan akses platform digital, ada pertarungan merek yang tidak kasatmata dan banyak pengrajin batik Banyuwangi yang belum tahu cara memenangkannya. Studi ini hadir untuk menjawab pertanyaan yang tampak sederhana tapi jawabannya tidak mudah: apa yang sesungguhnya membuat sebuah merek batik tumbuh kuat di platform digital, dan apa yang justru menggerusnya? Melalui wawancara mendalam dengan lima pelaku usaha batik Using Banyuwangi Gondho Arum, Godho Blambangan, Kapuronto Batik, Sisik Melik Batik Gallery, dan Rumah Batik Pringgokusumo serta lima konsumen mereka, penelitian ini menggali pengalaman nyata yang terjadi di lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa pelaku usaha yang paling berhasil bukan yang paling agresif beriklan, melainkan yang paling konsisten menceritakan nilai budaya di balik produknya. Motif Gajah Oling bukan sekadar gambar ia adalah identitas suku Using yang hidup ratusan tahun, dan ketika cerita itu dibagikan dengan tulus di media sosial, konsumen merespons jauh lebih dalam dari yang bisa dibeli oleh iklan berbayar manapun. Studi ini juga menemukan bahwa kedekatan personal antara penjual dan pembeli yang terlihat sederhana namun paling sulit ditiru adalah kunci loyalitas yang tidak bisa digantikan oleh diskon seberapa pun besarnya. Temuan ini memperluas model brand equity Aaker (1991) dengan dimensi baru: ekosistem platform digital bukan sekadar tempat berjualan, melainkan arena aktif yang setiap harinya membentuk atau meruntuhkan kekuatan sebuah merek.
Copyrights © 2026