Revolusi kecerdasan buatan generatif telah menimbulkan disrupsi nyata di berbagai sektor, namun diskursus tentang penerapannya di sekolah dasar (SD) masih terfragmentasi, padahal anak usia 6–12 tahun berada pada periode perkembangan kognitif yang rentan terhadap teknologi abstrak dan probabilistik. Artikel ini bertujuan untuk memetakan secara kritis peluang pedagogis, tantangan kognitif dan etis, serta arah kebijakan yang reflektif dalam integrasi AI generatif di SD. Penelitian ini menggunakan desain tinjauan naratif dengan pencarian literatur periode Januari–Maret 2026 melalui Scopus, Web of Science, dan Google Scholar, yang dianalisis secara tematik kualitatif. Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa AI generatif menawarkan peluang personalisasi pembelajaran mikro, scaffolding literasi dan numerasi, stimulasi kreativitas kolaboratif, serta dukungan administratif bagi guru. Namun, tantangan serius meliputi risiko atrofi kemampuan berpikir dasar, bahaya halusinasi terhadap pembentukan pengetahuan awal anak, ketidaksesuaian dengan tahap operasional konkret Piaget, bias algoritmik yang dapat tersosialisasi dini, pelanggaran privasi data anak, kesenjangan digital struktural, serta beban dan ketidaksiapan guru secara sistemik. Implikasi temuan menegaskan bahwa keberhasilan integrasi AI generatif di SD tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh ketajaman pertimbangan pedagogis dan perlindungan hak perkembangan anak. Diperlukan model integrasi bertahap berdasarkan usia dan konteks sekolah, serta redefinisi peran guru sebagai filter dan fasilitator kritis yang didukung pelatihan berkelanjutan, pengurangan beban administratif, dan kerangka kompetensi sistematis.
Copyrights © 2026