Penelitian ini berangkat dari fenomena ketidaksinkronan antara nilai agama yang diajarkan di madrasah dengan praktik pengasuhan di rumah. Fenomena "dualisme akhlak"—anak patuh di madrasah tetapi agresif atau tidak jujur di rumah—menjadi indikasi adanya ketimpangan dalam internalisasi nilai. Tujuan penelitian adalah menganalisis peran pemahaman agama orang tua dan pola asuh dalam pembentukan akhlak anak di Madrasah Diniyah Miftahussalam, Bandung. Metode kualitatif dengan desain studi kasus digunakan, melibatkan 10 keluarga dan 12 santri melalui wawancara mendalam serta observasi partisipatif selama tiga bulan di kawasan transisi rural-urban Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menemukan tiga tipologi: pemahaman agama tinggi dengan pola asuh otoriter melahirkan kepatuhan semu; pemahaman agama rendah dengan pola asuh demokratis menghasilkan akhlak sosial yang baik namun hampa spiritual; sinergi pemahaman agama mendalam dengan pola asuh demokratis-humanis membentuk akhlak mulia yang stabil. Kesimpulannya, internalisasi nilai agama tidak cukup hanya dengan hafalan atau ancaman, melainkan memerlukan ruang dialog dan keteladanan konsisten di rumah. Implikasi penelitian ini adalah perlunya program pendampingan orang tua berbasis literasi keagamaan dan keterampilan pola asuh positif yang terintegrasi dengan madrasah diniyah
Copyrights © 2026