Sektor pendidikan di wilayah Papua Pegunungan, khususnya pada masyarakat Suku Dani, memiliki peran krusial dalam menentukan masa depan keadilan sosial dan martabat kemanusiaan di tanah Papua. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses pedagogis masih terjebak dalam model banking education yang bersifat opresif, sehingga mengakibatkan dehumanisasi dan alienasi sosiokultural bagi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi pedagogi kritis Paulo Freire dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai instrumen pembebasan bagi masyarakat Suku Dani, mengidentifikasi integrasi kearifan lokal dalam proses kesadaran kritis, serta mengevaluasi implikasinya terhadap upaya rekonsiliasi dan keadilan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka yang membedah literatur primer dan sekunder mengenai teori pembebasan serta realitas empiris di Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pedagogi kritis melalui tahap conscientização mampu mentransformasi posisi peserta didik dari objek pasif menjadi subjek sejarah yang memiliki kedaulatan berpikir. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis antara nilai-nilai teologis Kristen dengan kearifan lokal Suku Dani, seperti filosofi Noken dan tradisi Bakar Batu, yang difungsikan sebagai media dialogis inklusif. Faktor pendukung utama dalam reorientasi ini adalah adanya keselarasan antara misi emansipatoris gereja dengan semangat kolektivitas adat, sementara faktor penghambatnya meliputi residu trauma rasisme, marginalisasi struktural, serta rendahnya literasi kritis akibat standarisasi kurikulum yang kaku. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis dalam mereformasi kurikulum PAK agar lebih kontekstual dan berbasis pada "teks hidup" masyarakat setempat guna mewujudkan Syalom yang holistik dan berkeadilan di Papua Pegunungan.
Copyrights © 2026