Artikel ini membahas konsep pertumbuhan, perkembangan, dan hakikat manusia dalam belajar dalam perspektif Islam dengan pendekatan konsep dan kepustakaan. Pertumbuhan dipahami sebagai perubahan kuantitatif yang bersifat fisik dan dapat diukur, sedangkan perkembangan merupakan proses perubahan kualitatif yang mencakup aspek intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Islam memandang kedua proses tersebut sebagai bagian dari sunnatullah yang berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan dalam kehidupan manusia. Al-Qur'an menjelaskan tahapan asal usul dan dinamika kehidupan manusia sebagai dasar teologis bagi konsep pertumbuhan dan perkembangan. Dalam konteks pendidikan, manusia diposisikan sebagai makhluk pembelajar yang memiliki potensi fitrah berupa akal, hati, dan jasad yang harus dikembangkan secara seimbang. Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia beradab yang mampu menempatkan ilmu secara proporsional dalam kerangka tauhid. Sementara itu, Al-Ghazali menekankan pentingnya tazkiyatun nafs sebagai inti perkembangan spiritual, dan Ibnu Khaldun menyoroti peran lingkungan sosial dalam membentuk perkembangan intelektual dan peradaban manusia. Dengan demikian, artikel ini menyimpulkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan dalam perspektif Islam bersifat holistik, integratif, dan berorientasi pada pembentukan insan kamil yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.
Copyrights © 2026