Latar Belakang: Pembelajaran nahwu dan shorof di pesantren sering berorientasi pada hafalan sehingga kurang mendukung pemahaman aplikatif dalam membaca kitab kuning; penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi metode Amtsilati pada santri takhassus. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus, melibatkan 12 informan (guru, santri, dan pimpinan pesantren), dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dianalisis melalui model Miles dan Huberman. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa metode Amtsilati diterapkan secara sistematis melalui tahapan matn–qoidah–tamrin, didukung oleh strategi hafalan, amtsilah, serta metode sorogan dan bandongan, sehingga santri mampu membaca kitab kuning tanpa harakat, mengenali struktur kalimat, dan memahami makna teks secara lebih baik. Implikasi: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Arab dapat dikembangkan secara lebih sistematis dan aplikatif tanpa meninggalkan tradisi pesantren, dengan catatan keberhasilan metode sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru dan konsistensi latihan santri.
Copyrights © 2026