Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi bullying dalam serial 13 Reasons Why, keterkaitannya dengan realitas sosial bullying remaja di Kota Kupang, serta dampaknya terhadap kesehatan mental dan normalisasi perundungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk melalui dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serial tersebut merepresentasikan bullying sebagai kekerasan multidimensional yang mencakup bullying verbal, sosial, siber, dan seksual. Perundungan digambarkan sebagai proses akumulatif melalui ejekan, pelabelan negatif, penyebaran rumor, pengucilan sosial, hingga lemahnya respons institusi sekolah, yang berdampak pada kecemasan, depresi, rendahnya harga diri, dan keputusasaan korban. Representasi tersebut memiliki kesesuaian dengan realitas remaja di Kota Kupang, di mana ejekan fisik, penghinaan verbal, pengucilan kelompok, dan cyberbullying masih sering dinormalisasi sebagai bagian dari dinamika pergaulan. Di sisi lain, serial ini juga mendorong kesadaran remaja mengenai bahaya bullying dan pentingnya kesehatan mental. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bullying bukan sekadar perilaku individual, melainkan produk budaya sosial yang permisif serta lemahnya dukungan institusional. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran sekolah sebagai ruang aman, peningkatan literasi digital, serta edukasi kesehatan mental sebagai strategi pencegahan yang lebih sistemik.
Copyrights © 2026