Wiyata Budaya
Vol. 2 No. 2 (2025): WIYATA BUDAYA: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora

ANALISIS KAJIAN SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE PADA PUISI “TEDUH HUTAN JATI” DAN “BERJALAN DI PEMATANG SAWAH” KARYA BAMBANG SUPRANOTO

Vinna Cahya Safitri (Universitas Lampung)
Heru Prasetyo (Universitas Lampung)
Munaris Munaris (Universitas Lampung)



Article Info

Publish Date
17 Oct 2025

Abstract

This research analyzes two poems by Bambang Supranoto, namely "Shady Teak Forest" and "Walking On The Rice Fields", using Ferdinand de Saussure's semiotic theory with a descriptive qualitative approach. This semiotic theory focuses on the relationship between signifier and signified in poetry. The aim of this research is to reveal the meaning contained in the language elements used by poets to convey messages and emotions. The results of the analysis show that in the poem "Shady Teak Forest", markers such as "wind" and "lush teak leaves" describe the soothing calm of nature, with signs of peace and blessings given by God through nature. Meanwhile, in the poem "Walking On The Rice Fields", markers such as "joyful singing" and "lush rice" describe an atmosphere of joy and gratitude for God's grace which is manifested from fertile nature. This second poem shows the harmony between humans and nature, as well as the importance of protecting and being grateful for the existence of nature as a gift from God. It is hoped that this research can add more insight into the dynamics of signs in poetry and enrich readers' understanding of the hidden meanings contained in literary works. Penelitian ini menganalisis dua puisi karya Bambang Supranoto, yaitu “Teduh Hutan Jati” dan “Berjalan di Pematang Sawah”, menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teori semiotika ini menitikberatkan pada hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified) yang ada dalam puisi. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap makna yang terdapat dalam elemen-elemen bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pesan dan emosi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam puisi “Teduh Hutan Jati”, penanda seperti “angin” dan “rimbun daun-daun jati” menggambarkan ketenangan alam yang menyejukkan, dengan petanda berupa kedamaian dan keberkahan yang diberikan Tuhan melalui alam. Sedangkan dalam puisi “Berjalan di Pematang Sawah”, penanda seperti “lagu gembira” dan “rimbun padi” menggambarkan suasana gembira dan rasa syukur terhadap karunia Tuhan yang tercermin dalam alam yang subur. Kedua puisi ini menunjukkan keharmonisan antara manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga dan mensyukuri keberadaan alam sebagai berkah Tuhan. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan lebih dalam tentang dinamika tanda dalam puisi dan memperkaya pemahaman pembaca terhadap makna tersembunyi yang terkandung dalam karya sastra.

Copyrights © 2025






Journal Info

Abbrev

wiyatabudaya

Publisher

Subject

Description

Jurnal Wiyatabudaya merupakan jurnal open acces sebagai sarana media dikusi, deskripsi, dan pengembangan ilmu pendidikan yang memuat naskah-naskah ilmiah dan penelitian empiris. Jurnal Wiyatabudaya menerima artikel pada bidang pendidikan dalam konteks humaniora dengan menggunakan berbagai metode ...