Kawasan lahan basah Paya Nie di Kabupaten Bireuen memiliki potensi ekologis dan ekonomi melalui pemanfaatan tanaman purun sebagai bahan baku kriya. Namun, keterbatasan inovasi desain, manajemen usaha, serta strategi pemasaran membuat produk anyaman purun UMKM Beujroh kurang memiliki daya saing. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan pengrajin purun melalui pelatihan inovasi produk, manajemen keuangan, agroforestri lahan basah, dan pemasaran digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan kombinasi ceramah, diskusi, praktik langsung, dan pendampingan intensif. Sebanyak 40 pengrajin purun mengikuti kegiatan, yang dievaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test berbasis skala Likert serta observasi lapangan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan, dengan rata-rata skor pre-test sebesar 50,35 meningkat menjadi 79,75 pada post-test (kenaikan 29,4 poin). Aspek inovasi desain mendorong lahirnya produk baru yang lebih sesuai tren pasar, manajemen keuangan memperkuat literasi pencatatan usaha, agroforestri meningkatkan kesadaran pelestarian bahan baku, dan pemasaran digital membuka peluang akses pasar lebih luas. Temuan ini membuktikan bahwa pelatihan terpadu efektif dalam meningkatkan kapasitas pengrajin purun, memperkuat ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan lahan basah. Model pelatihan terpadu ini berhasil menciptakan sinergi untuk UMKM berbasis serat alam.
Copyrights © 2026