Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh latihan interval terhadap peningkatan daya tahan aerobik atlet Kijang Rinjani Lombok Timur. Permasalahan penelitian berangkat dari kebutuhan atlet nomor lari untuk mempertahankan intensitas kerja dalam durasi panjang, sementara hasil observasi menunjukkan sebagian atlet masih cepat mengalami kelelahan saat latihan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan one group pre-test post-test design. Sampel terdiri atas 12 atlet Kijang Rinjani Lombok Timur yang mengikuti program latihan interval selama empat minggu dengan frekuensi tiga kali per minggu. Instrumen pengukuran adalah Multistage Fitness Test (bleep test) untuk mengestimasi VO2max. Data dianalisis melalui statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan uji Wilcoxon Signed Rank Test/paired comparison berdasarkan karakter data pre-test dan post-test. Hasil analisis ulang berdasarkan tabel pre-test dan post-test menunjukkan rata-rata VO2max meningkat dari 74,83 menjadi 77,46 ml/kg/menit, dengan rerata peningkatan 2,63 ml/kg/menit. Semua atlet menunjukkan peningkatan individual, dengan rentang kenaikan 1,00 sampai 4,50 ml/kg/menit. Uji Shapiro-Wilk pada data VO2max menunjukkan distribusi normal, sedangkan uji Wilcoxon terhadap pasangan nilai pre-test dan post-test menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik (p < 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa latihan interval yang disusun secara progresif, teratur, dan berbasis prinsip kerja-istirahat dapat meningkatkan daya tahan aerobik atlet. Implikasinya, latihan interval dapat digunakan sebagai strategi pembinaan kondisi fisik, terutama bagi atlet lari jarak menengah dan jauh yang membutuhkan kapasitas aerobik serta kemampuan pemulihan yang baik. Kata Kunci: Latihan Interval, Daya Tahan Aerobik, VO2max, Bleep Test, Atlet Kijang Rinjani.
Copyrights © 2025