Tenun Kambe-Kambera merupakan salah satu ragam tenun tradisional Muna yang memiliki kekhasan visual, simbolik, dan sosial karena motifnya terinspirasi dari bentuk kambera atau kupu-kupu. Di tengah perubahan selera busana, komodifikasi motif, dan menurunnya pemahaman generasi muda terhadap tata makna sarung adat, kajian mengenai hubungan antara bentuk motif, makna simbolik, dan nilai budaya tenun Kambe-Kambera menjadi penting. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk motif tenun Kambe-Kambera, menafsirkan makna simboliknya dalam tenun tradisional Muna, serta mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce melalui relasi representamen, objek, dan interpretan. Data diperoleh melalui observasi proses tenun di Desa Masalili, wawancara dengan penenun dan tokoh masyarakat, dokumentasi motif dan alat tenun, serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Kambe-Kambera hadir pada sarung bhotu, samasili, manggo-manggopa, lejha, dan bhia-bhia. Motif ini merepresentasikan identitas sosial, ketangguhan, kepemimpinan, kerja keras, kesopanan, serta hubungan manusia dengan alam. Warna kuning/emas, hitam, biru, merah, hijau, putih, dan merah muda berfungsi sebagai penanda nilai optimisme, martabat, kedewasaan, keberanian, keterbukaan, kesucian, dan kelembutan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa tenun Kambe-Kambera bukan hanya produk tekstil, melainkan arsip visual budaya Muna yang memuat sistem pengetahuan lokal, stratifikasi sosial, nilai religius, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai budaya, nilai ekonomi, dan nilai estetika. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan dokumentasi ilmiah motif tenun Muna sebagai dasar pelestarian budaya, pendidikan seni, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2022