This study aims to describe the phenomenon of code-mixing in TikTok videos uploaded by the account Bayem (@octatannn), specifically within the storytelling content "Boombayah" episode 240. A descriptive qualitative approach was employed, incorporating data reduction techniques. The data consisted of spoken utterances obtained through observation and note-taking techniques, drawn from the transcript of a video with a duration of 5 minutes and 46 seconds, with data validation conducted through triangulation. The analysis was focused on the identification and classification of code-mixing forms based on the insertion of elements in the form of words, phrases, and sentences. The findings revealed that out of 22 total data items, code-mixing at the word level was predominant, accounting for 15 instances, followed by phrase-level code-mixing with 6 instances, and sentence-level code-mixing with 1 instance. All identified data involved the insertion of English elements into Indonesian. The contributing factors underlying the use of code-mixing include habitual language practices on social media, the desire to appear contemporary, the influence of popular culture, and the intention to express emotions in a manner that is engaging to the audience. These findings affirm that TikTok, as a digital interaction space, plays a significant role in shaping linguistic variation, particularly code-mixing as a distinctive communicative style among young users. This phenomenon reflects the linguistic reality of a digitally adaptive society in response to global influences, while simultaneously demonstrating how technological advancement drives the dynamics of language variation in the modern era. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena campur kode dalam video TikTok akun Bayem (@octatannn) pada konten cerita "Boombayah" bagian ke-240. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik reduksi data. Data penelitian berupa tuturan lisan yang diperoleh melalui teknik simak dan catat, bersumber dari transkrip video berdurasi 05.46 menit, dengan validasi data menggunakan teknik triangulasi. Analisis difokuskan pada identifikasi dan klasifikasi bentuk-bentuk campur kode berdasarkan penyisipan unsur berupa kata, frasa, dan kalimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 22 data yang ditemukan, campur kode dalam bentuk kata mendominasi dengan 15 data, diikuti bentuk frasa sebanyak 6 data, dan bentuk kalimat sebanyak 1 data. Keseluruhan data merupakan penyisipan unsur bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Adapun faktor pendorong penggunaan campur kode meliputi kebiasaan berbahasa di media sosial, keinginan untuk terlihat modern, pengaruh budaya populer, serta upaya mengekspresikan emosi secara menarik bagi audiens. Temuan ini menegaskan bahwa TikTok sebagai ruang interaksi digital berperan signifikan dalam membentuk variasi bahasa, khususnya campur kode sebagai gaya komunikasi khas di kalangan pengguna muda. Fenomena ini mencerminkan realitas penggunaan bahasa masyarakat digital yang adaptif terhadap pengaruh global, sekaligus memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi mendorong dinamika variasi bahasa di era modern.
Copyrights © 2026