Implementation of gender equality-based education in preventing sexual violence in schools This article aims to analyze the implementation of gender equality-based education as a preventive strategy in preventing sexual violence in the school environment. This research uses a qualitative method with a literature study approach, which includes analyzing academic journals, educational policies, and relevant official documents. The results of the study show that gender equality education is able to increase students' critical awareness of the issue of sexual violence, form social norms that reject violence, and create an inclusive and safe school environment. This education also encourages the active involvement of teachers and students in building a culture of mutual respect. However, resistance to gender education arising from various social and political actors indicates the need for a contextual and culturally sensitive approach. In conclusion, gender equality-based education is not only important as an effort to protect students, but also as a means of social and cultural transformation in the education system. Its implementation must be holistic, sustainable, and involve all elements of society in order to have a real impact in preventing sexual violence in schools. This article makes a conceptual contribution to the development of education policies that are more equitable and responsive to gender issues. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pendidikan berbasis kesetaraan gender sebagai strategi preventif dalam mencegah kekerasan seksual di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yang mencakup analisis terhadap jurnal akademik, kebijakan pendidikan, serta dokumen-dokumen resmi yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan kesetaraan gender mampu meningkatkan kesadaran kritis siswa terhadap isu kekerasan seksual, membentuk norma sosial yang menolak kekerasan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman. Pendidikan ini juga mendorong keterlibatan aktif guru dan siswa dalam membangun budaya saling menghormati. Namun, resistensi terhadap pendidikan gender yang muncul dari berbagai aktor sosial dan politik menandakan perlunya pendekatan yang kontekstual dan sensitif terhadap budaya lokal. Kesimpulannya, pendidikan berbasis kesetaraan gender tidak hanya penting sebagai upaya perlindungan terhadap peserta didik, tetapi juga sebagai sarana transformasi sosial dan kultural dalam sistem pendidikan. Implementasinya harus dilakukan secara holistik, berkelanjutan, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat agar dapat berdampak nyata dalam mencegah kekerasan seksual di sekolah. Artikel ini memberikan kontribusi konseptual dalam pengembangan kebijakan pendidikan yang lebih adil dan responsif terhadap isu gender.
Copyrights © 2025