Perkembangan bahasa anak merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang yang dapat dipengaruhi oleh pola asuh dan paparan teknologi. Penggunaan gawai pada usia dini cenderung meningkat dan diduga berperan terhadap terjadinya speech delay. Namun, bukti ilmiah yang membahas hubungan antara intensitas penggunaan gawai dan keterlambatan bicara masih terbatas. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain case–control yang bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan gawai dengan kejadian speech delay pada anak usia 2–5 tahun di RSUD Sanjiwani Gianyar. Sampel terdiri dari 98 responden (49 anak speech delay dan 49 anak tanpa speech delay) yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner mengenai karakteristik anak dan kebiasaan penggunaan gawai, sedangkan data sekunder berasal dari rekam medis. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan nilai signifikansi p < 0,05 serta perhitungan odds ratio (OR) dan interval kepercayaan 95%. Sebanyak 50% responden mengalami speech delay. Berdasarkan intensitas penggunaan gawai, 12,2% memiliki intensitas ringan, 49% sedang, dan 38,8% berat. Hasil analisis menunjukkan bahwa intensitas penggunaan gawai berat berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko speech delay (OR = 4,24; 95% CI: 1,77–10,18; p = 0,01). Terdapat hubungan bermakna antara intensitas penggunaan gawai dan kejadian speech delay pada anak usia 2–5 tahun. Penggunaan gawai dengan durasi dan frekuensi tinggi meningkatkan risiko keterlambatan bicara, sehingga pengawasan dan pembatasan waktu penggunaan gawai oleh orang tua sangat dianjurkan.
Copyrights © 2025