Pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis strategi retorika kewarganegaraan digital yang digunakan oleh Bawaslu RI dalam kampanye anti-hoaks di media sosial sebagai upaya edukasi publik. Di tengah masifnya disinformasi, penggunaan bahasa persuasif menjadi instrumen krusial dalam memberikan nilai tambah bagi masyarakat sasaran. Menggunakan pendekatan kualitatif, pengabdian ini membedah 30 unit teks genre mikro berdasarkan pilar retorika Aristoteles. Hasil menunjukkan dominasi pilar Pathos (40%), diikuti Logos (33,3%), dan Ethos (26,7%). Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan emosional lebih efektif dalam membangkitkan tanggung jawab moral warga negara untuk menjaga harmoni nasional. Integrasi nilai Pancasila dalam kampanye ini membuktikan efektivitas retorika digital sebagai media revitalisasi etika kewarganegaraan di ruang siber. Simpulan merekomendasikan model komunikasi yang menyinergikan otoritas institusional dengan sentuhan kemanusiaan.
Copyrights © 2026