Pondok pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang pembinaan karakter dan pertumbuhan emosional, spiritual, serta sosial para santri. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pola pengasuhan yang diterapkan di Pondok Pesantren Tahfidz Haji Nur Abdullah, Koto Baru, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, serta mengidentifikasi berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan melibatkan pengasuh sebagai informan utama serta santri sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan di pesantren ini mengintegrasikan tiga pendekatan utama, yaitu humanistik, behavioristik, dan sosiokultural. Pendekatan humanistik tercermin dari perhatian pengasuh terhadap kebutuhan emosional dan fisik santri melalui komunikasi terbuka dan pendekatan yang penuh empati. Pendekatan behavioristik diterapkan melalui pemberian penghargaan dan sanksi yang bertujuan membentuk kedisiplinan, sedangkan pendekatan sosiokultural diwujudkan dalam pembiasaan nilai-nilai pesantren, keteladanan, serta interaksi sosial yang kuat antar santri. Namun, dalam praktiknya, pola pengasuhan ini masih menghadapi kendala seperti perbedaan karakter santri, keterbatasan jumlah pengasuh, dan tantangan menjaga keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan dalam pembinaan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model pengasuhan pesantren yang lebih menyeluruh dan menyentuh sisi kemanusiaan santri secara utuh.
Copyrights © 2026