Keberagaman etnis, budaya, agama, dan bahasa di perguruan tinggi menjadikan kampus sebagai ruang dialog multikultural yang strategis namun penuh tantangan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis tantangan serta peluang yang dihadapi Universitas Ibnu Sina dalam membangun dialog multikultural yang efektif di antara sivitas akademikanya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Partisipan berjumlah 20 orang yang dipilih melalui purposive sampling, terdiri atas 14 mahasiswa, 4 dosen, dan 2 tenaga kependidikan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik dengan bantuan perangkat lunak ATLAS.ti. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama: pola interaksi homofili berbasis identitas kultural (78,6%), hambatan struktural berupa ketiadaan kebijakan inklusi budaya, serta hambatan kultural berupa stereotip dan prasangka budaya yang diakui oleh 80% partisipan. Peluang fasilitasi dialog teridentifikasi melalui organisasi kemahasiswaan lintas budaya, peran dosen sebagai fasilitator inklusif, dan nilai Pancasila sebagai fondasi bersama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi kampus sebagai ruang dialog multikultural memerlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan kebijakan institusional, kompetensi komunikasi antarbudaya, dan budaya kelembagaan yang inklusif.
Copyrights © 2026