Industri tahu sektor informal yang menggunakan bahan bakar kayu berpotensi menghasilkan partikulat PM10 dan PM2,5 dalam konsentrasi tinggi di lingkungan kerja. Kondisi ini menurunkan kualitas udara pada ruang produksi semi-indoor sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pajanan PM10 dan PM2,5 terhadap gangguan pernapasan pada pekerja industri tahu di Kelurahan Selili. Metode yang digunakan adalah Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) melalui pengukuran konsentrasi particulate matter menggunakan alat Dust Detector, serta wawancara menggunakan kuesioner St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ) untuk menilai gangguan pernapasan. Selain itu, dilakukan perhitungan intake, Risk Quotient (RQ), dan analisis manajemen risiko. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi PM10 sebesar 1,054 mg/m³ dan PM2,5 sebesar 0,333 mg/m³ pada 21 titik. Seluruh responden memiliki nilai RQ > 1 dengan rata-rata RQ PM10 sebesar 9,190 dan PM2,5 sebesar 2,258, yang menunjukkan pajanan melebihi batas aman. Kesimpulan penelitian ini adalah pajanan PM10 dan PM2,5 berada pada tingkat berisiko dan berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan. Disarankan pengendalian melalui penambahan ventilasi (exhaust fan), penggunaan masker N95, serta bahan bakar lebih ramah lingkungan, disertai edukasi dan pengawasan rutin untuk meningkatkan keselamatan kerja.
Copyrights © 2026