Abstract: Penelitian ini mengkaji silent treatment sebagai bentuk komunikasi tidak efektif dalam toxic relationship, khususnya dari perspektif perempuan korban di Samarinda. Pemilihan topik didasarkan pada tingginya kasus kekerasan emosional dalam pacaran di kalangan Generasi Z, sebagaimana dilaporkan Komnas Perempuan dan survei nasional, di mana silent treatment sering luput diakui sebagai kekerasan emosional meskipun menimbulkan dampak psikologis serius seperti kecemasan, penurunan harga diri, dan emotional exhaustion. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap empat mahasiswi Universitas Mulawarman yang dipilih secara purposive sampling. Analisis dilakukan dengan model Miles dan Huberman, menggunakan kerangka teori atribusi serta lima aspek komunikasi interpersonal: keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silent treatment berfungsi sebagai strategi pasif-agresif yang merusak kelima aspek komunikasi tersebut, memicu atribusi internal (self-blame) pada korban dan memperkuat ketimpangan kuasa dalam hubungan. Komunikasi menjadi satu arah, tidak empati, dan penuh ketidakpastian. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi komunikasi sehat dan kesadaran atribusi untuk mencegah serta memulihkan korban toxic relationship, sekaligus mendukung pembangunan hubungan romantis yang setara dan berkelanjutan di kalangan generasi muda.
Copyrights © 2026