Perkembangan modernisasi sering diasumsikan menyebabkan melemahnya budaya lokal, khususnya dalam praktik komunikasi tradisional. Namun, sebagian besar penelitian masih berfokus pada erosi budaya dan belum banyak mengkaji bagaimana praktik komunikasi tradisional tetap bertahan sebagai sistem sosial yang hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi To’is serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutannya di Desa Poli. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus, melibatkan 6 informan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa To’is tetap eksis sebagai sistem komunikasi simbolik yang dipahami secara kolektif, memiliki dimensi emosional, serta berperan dalam membangun solidaritas sosial. Keberlanjutannya dipengaruhi oleh warisan budaya, peran tokoh adat, dukungan pemerintah desa, kesadaran kolektif, dan praktik sosial yang terus direproduksi. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis To’is sebagai praktik komunikasi yang bertahan melalui mekanisme habitus. Temuan ini menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu menghilangkan budaya lokal, tetapi dapat berjalan berdampingan melalui adaptasi yang kontekstual.
Copyrights © 2026