Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk menyusun asesmen berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS), namun implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis kesulitan yang dialami guru kelas IV dan V dalam menyusun soal HOTS pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian adalah dua orang guru kelas IV dan V di SD Tlogomas 2 yang dipilih secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan pedoman semi-terstruktur (23 item pertanyaan) dan dokumentasi soal Sumatif Harian IPAS. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa, dengan validitas data dijamin melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking. Hasil penelitian menemukan tujuh jenis kesulitan yang dialami guru, yaitu: (1) kesulitan memahami konsep soal HOTS; (2) kesulitan merumuskan indikator soal HOTS; (3) kesulitan mengembangkan stimulus dan distraktor; (4) kesulitan menghubungkan HOTS dengan tujuan pembelajaran; (5) kesulitan memahami standar penilaian soal HOTS; (6) minimnya dukungan sumber daya dan pelatihan; serta (7) kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum dan kemampuan siswa. Temuan signifikan menunjukkan bahwa dari 30 butir soal yang dianalisis, hanya 5 soal (16,7%) yang termasuk kategori HOTS, sementara 25 soal (83,3%) masih berada pada ranah berpikir tingkat rendah (LOTS). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesulitan guru bersifat multidimensional dan sistemik, dengan pemahaman konseptual yang dangkal tentang HOTS sebagai akar permasalahan utama. Diperlukan intervensi holistik berupa pelatihan berkelanjutan, penguatan pendampingan, serta penyediaan sumber daya yang memadai untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun soal HOTS pada mata pelajaran IPAS.
Copyrights © 2025