Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme kekerasan epistemik, praktik representasi yang membungkam suara subaltern, serta menjelaskan bagaimana hegemoni kekuasaan bekerja dalam mempertahankan subalternitas tokoh-tokoh marginal dalam struktur sosial yang digambarkan dalam novel Kawi Matin di Negeri Anjing karya Arafat Nur. Penelitian ini menggunakan teori subaltern Gayatri Chakravorty Spivak dan menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan kritik sastra postkolonial melalui pembacaan tekstual terhadap narasi, tokoh, dan peristiwa dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subaltern dalam novel tidak direpresentasikan sebagai subjek yang memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman dan kepentingannya sendiri. Kekerasan epistemik bekerja dengan menghapus pengalaman hidup tokoh-tokoh marginal dari produksi pengetahuan yang dianggap sah, sementara praktik representasi justru menempatkan subaltern sebagai objek yang didefinisikan dari luar melalui pelabelan dan stigma sosial. Selain itu, hegemoni kekuasaan yang berlangsung secara terus-menerus dalam ranah militer, administratif, hukum, dan ekonomi menciptakan kondisi struktural yang menutup akses subaltern terhadap pengakuan sosial, keadilan hukum, dan mobilitas sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kegagalan subaltern dalam memperbaiki posisi hidupnya bukan disebabkan oleh kelemahan individu, melainkan oleh struktur kekuasaan yang secara sistematis membatasi kemungkinan mereka untuk berbicara dan diakui. Dengan demikian, novel Kawi Matin di Negeri Anjing tidak menghadirkan narasi pembebasan subaltern, melainkan menegaskan subalternitas sebagai kondisi struktural dalam masyarakat pascakolonial Indonesia.
Copyrights © 2026