Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam praktik public relations di era komunikasi digital. AI tidak hanya digunakan sebagai teknologi pendukung administratif, tetapi juga dimanfaatkan dalam aktivitas komunikasi strategis seperti media monitoring, analisis sentimen publik, chatbot layanan informasi, produksi konten digital, hingga pengelolaan isu dan reputasi organisasi. Transformasi tersebut mendorong perubahan terhadap kompetensi yang dibutuhkan praktisi humas di tengah perkembangan komunikasi berbasis data dan otomatisasi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh AI terhadap praktik public relations, mengidentifikasi kompetensi baru yang dibutuhkan praktisi humas, serta menjelaskan tantangan dan strategi adaptasi profesi humas di era Artificial Intelligence. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur melalui pengkajian jurnal ilmiah, buku akademik, laporan industri, dan publikasi terkait komunikasi digital dan AI. Hasil kajian menunjukkan bahwa perkembangan AI menyebabkan profesi humas mengalami pergeseran dari fungsi teknis menuju fungsi komunikasi strategis berbasis teknologi dan data. Praktisi public relations dituntut memiliki kompetensi literasi digital, kemampuan analisis data, pemahaman teknologi AI, kreativitas, kemampuan berpikir strategis, serta sensitivitas etika komunikasi. Di sisi lain, penggunaan AI juga memunculkan tantangan berupa risiko bias algoritma, persoalan privasi data, misinformation, dan berkurangnya aspek humanis dalam komunikasi organisasi. Oleh karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung komunikasi, bukan pengganti total peran manusia. Adaptasi profesi humas melalui reskilling, upskilling, dan penguatan human relations menjadi langkah penting agar profesi public relations tetap relevan dan kompetitif di era Artificial Intelligence.
Copyrights © 2026