Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INTEGRATED MARKETING COMMUNICATION DALAM MENINGKATKAN IMAGE PADA UNIVERSITAS HINDU NEGERI I GUSTI BAGUS SUGRIWA I Gusti Ayu Putri Trisnayanti; Ida Bagus Gede Candrawan; I Ketut Wardana Yasa
Anubhava: Jurnal Ilmu Komunikasi HIndu Vol. 2 No. 2 (2022): Media and Communication Strategies
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/anubhava.v2i2.1438

Abstract

Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar is one of the Hindu State Universities located in the urban area of Denpasar, namely North Denpasar, of course, it cannot be separated from the very fierce competition with universities in Bali, image restoration needs to be done to build an image, therefore universities must be able to market their institutions to the community so that they can arouse interest and then attract prospective students. One of them is by applying the concept of Integrated Marketing Communication (IMC). This research method uses a descriptive qualitative approach, and produce research namely Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar conducting marketing communication with the concept of IMC, namely advertising, personal selling, sales promotion, public relations, interactive marketing, and direct marketing, From the implementation, there are communication barriers, namely communication process barriers, physical, frame of mind, and technical barriers. IMC activities will certainly have implications for internal, external, marketing communications and social media.
Analisis Framing Berita Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Media Online Kompas.com dan Tempo.co : Implikasi Konstruksi Realitas terhadap Opini Publik I Gusti Ayu Putri Trisnayanti; Astuti Wijayanti; I Putu Gede Buda Mardiksa Putra
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 3 No. 4 (2025): December : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v3i4.790

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan oleh pemerintsah baru menjadi kebijakan publik yang sangat sentral dan kontroversial, memicu perdebatan sengit mengenai alokasi anggaran triliunan rupiah dan efektivitas implementasi di lapangan. Dalam konteks ini, media massa memiliki peran krusial sebagai agen yang mengolah dan menyajikan isu tersebut, yang secara langsung memengaruhi cara publik memahami dan menyikapi program nasional ini. Meskipun teori framing telah mapan menjelaskan bagaimana media memilih dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas, masih terdapat kesenjangan dalam literatur komparatif yang secara sistematis membedah bagaimana dua media besar Indonesia dengan orientasi editorial yang kontras (institusional vs. investigatif) mengkonstruksi realitas kebijakan high-profile kontemporer seperti MBG. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan secara komparatif framing pemberitaan MBG pada Kompas.com dan Tempo.co, serta mengidentifikasi implikasi konstruksi realitas yang berbeda tersebut terhadap dinamika pembentukan opini publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Framing Model Robert N. Entman (1993). Instrumen utama yang digunakan adalah matriks analisis Entman yang terstruktur, meliputi empat elemen: Definisi Masalah, Diagnosis Penyebab, Penilaian Moral, dan Rekomendasi Penanganan. Hasil penelitian menunjukkan adanya polaritas framing yang tajam. Kompas.com menggunakan Bingkai Investasi Pembangunan, mendefinisikan masalah sebagai Krisis Gizi dan Stunting (Define Problem) dan menilai program ini Sangat Positif (Moral Judgment). Sebaliknya, Tempo.co menggunakan Bingkai Akuntabilitas Kritis, mendefinisikan masalah sebagai Risiko Anggaran dan Tata Kelola Keuangan Negara (Define Problem) dan menilai program ini Skeptis atau Gimmick Politik (Moral Judgment). Perbedaan signifikan terletak pada fokus isu (outcome gizi vs. input anggaran) dan evaluasi program (legitimasi vs. kritik).
Kompetensi Public Relations di Era Artificial Intelligence: Tantangan dan Adaptasi Profesi Humas Astuti Wijayanti; I Gusti Ayu Putri Trisnayanti; Ni Ketut Gita Saraswati
Jurnal Komputer dan Teknologi Informasi (JUKOMTIK) Vol. 1 No. 2 (2026): Januari-Maret
Publisher : Samudra Ilmu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam praktik public relations di era komunikasi digital. AI tidak hanya digunakan sebagai teknologi pendukung administratif, tetapi juga dimanfaatkan dalam aktivitas komunikasi strategis seperti media monitoring, analisis sentimen publik, chatbot layanan informasi, produksi konten digital, hingga pengelolaan isu dan reputasi organisasi. Transformasi tersebut mendorong perubahan terhadap kompetensi yang dibutuhkan praktisi humas di tengah perkembangan komunikasi berbasis data dan otomatisasi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh AI terhadap praktik public relations, mengidentifikasi kompetensi baru yang dibutuhkan praktisi humas, serta menjelaskan tantangan dan strategi adaptasi profesi humas di era Artificial Intelligence. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur melalui pengkajian jurnal ilmiah, buku akademik, laporan industri, dan publikasi terkait komunikasi digital dan AI. Hasil kajian menunjukkan bahwa perkembangan AI menyebabkan profesi humas mengalami pergeseran dari fungsi teknis menuju fungsi komunikasi strategis berbasis teknologi dan data. Praktisi public relations dituntut memiliki kompetensi literasi digital, kemampuan analisis data, pemahaman teknologi AI, kreativitas, kemampuan berpikir strategis, serta sensitivitas etika komunikasi. Di sisi lain, penggunaan AI juga memunculkan tantangan berupa risiko bias algoritma, persoalan privasi data, misinformation, dan berkurangnya aspek humanis dalam komunikasi organisasi. Oleh karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung komunikasi, bukan pengganti total peran manusia. Adaptasi profesi humas melalui reskilling, upskilling, dan penguatan human relations menjadi langkah penting agar profesi public relations tetap relevan dan kompetitif di era Artificial Intelligence.