Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kekuasaan dan nasionalisme dalam penyajian koleksi Museum Brawijaya, pemanfaatannya sebagai sumber pembelajaran dalam mata kuliah Hegemoni Dunia, serta respon dan pemahaman mahasiswa setelah mengikuti pembelajaran berbasis museum. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, serta diperkuat dengan analisis wacana kritis untuk mengkaji relasi antara pengetahuan, kekuasaan, dan ideologi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan Focus Group Discussion (FGD), kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Brawijaya merepresentasikan kekuasaan dan nasionalisme melalui narasi sejarah, simbol visual, dan tata pamer yang menempatkan militer sebagai aktor utama dalam sejarah nasional. Representasi ini mencerminkan praktik hegemoni kultural yang bekerja melalui konstruksi pengetahuan sejarah yang diterima kebenarannya. Pemanfaatan museum dalam pembelajaran terbukti mampu menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, meningkatkan keterlibatan mahasiswa, serta mengembangkan kesadaran kritis terhadap relasi antara pengetahuan dan kekuasaan. Selain itu, pembelajaran berbasis museum mendorong perubahan respon mahasiswa dari sikap afirmatif menjadi reflektif dan kritis, serta meningkatkan kemampuan berpikir historis dan kesadaran ideologis. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa museum tidak hanya berfungsi sebagai media edukasi, tetapi juga sebagai arena produksi makna yang memiliki peran penting dalam pengembangan pembelajaran sejarah yang kritis, reflektif, dan transformatif.
Copyrights © 2026