Era disrupsi digital memaksa lembaga dakwah untuk bertransformasi guna mempertahankan otoritas keagamaan di ruang siber. Namun, adopsi teknologi sering kali terhambat oleh rendahnya literasi digital, resistensi kultural SDM, hingga masalah teknis dalam manajemen operasional. Penelitian ini bertujuan merumuskan model pengembangan kompetensi SDM dan reorientasi operasional lembaga dakwah melalui konsep Bashirah Digital. Melalui kajian literatur yang mendalam, ditemukan bahwa digitalisasi bukan sekadar pengadaan alat, melainkan perubahan budaya kerja dan pola pikir pimpinan. Transformasi kompetensi harus mencakup pilar digital skills, culture, ethics, dan safety sebagai standar kendali dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) agar tetap sesuai dengan kemurnian sanad keilmuan. Selain itu, integrasi fungsi POAC yang berbasis data diperlukan untuk mengatasi masalah sinkronisasi data manual yang selama ini menghambat efisiensi organisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Bashirah Digital berfungsi sebagai rem moral agar teknologi tetap menjadi alat bantu informasi tanpa mengabaikan tanggung jawab teologis SDM sebagai pembimbing spiritual.
Copyrights © 2026