Pembelajaran orientasi dan mobilitas (OM) bagi anak tunanetra memegang peranan penting dalam mendukung kemandirian gerak dan navigasi mereka di lingkungan sekitar. Salah satu teknik yang digunakan dalam pembelajaran OM adalah teknik pendamping awas, yang mencakup delapan aspek dasar seperti pegangan, posisi berjalan, serta navigasi melalui ruang sempit, tangga, dan pintu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan pembelajaran OM melalui teknik pendamping awas pada siswa tunanetra kelas 2 SDLB. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pende katan antara dua sekolah, di mana satu sekolah menggunakan tongkat sebagai alat bantu sedangkan sekolah lainnya tidak. Tantangan utama dalam pelaksanaan pembelajaran ini mencakup perbedaan tingkat kemampuan siswa dalam hal pemahaman, motorik, dan keberanian, serta kondisi lingkungan fisik yang kurang mendukung seperti jalan tidak rata dan suasana yang bising. Untuk mengatasi hal tersebut, guru melakukan adaptasi seperti menyediakan jalur mobilitas yang aman, penambahan penanda pendukung, serta pengaturan waktu latihan. Rekomendasi pentingnya adaptasi strategi OM sesuai karakteristik siswa dan lingkungan, serta peran krusial dukungan eksternal dalam mencapai kemandirian tunanetra.
Copyrights © 2026