This study examines the translation methods used in labeling collections of objects at the Cakraningrat Museum Bangkalan. The Cakraningrat Museum Bangkalan is an institution that aims to collect, maintain, and exhibit objects of historical, artistic, cultural, or scientific value. This study uses a qualitative descriptive approach to identify and analyze translation methods using Newmark's theory (1988). The results of this study indicate that translators use several translation methods such as literal translation methods, faithful translation methods, semantic translation methods, and communicative translation methods with the most dominant literal translation method used.Keywords: culture, museum, translation, labeling, collection Abstrak Penelitian ini mengkaji metode penerjemahan yang digunakan dalam pelabelan koleksi benda di Museum Cakraningrat Bangkalan. Museum Cakraningrat Bangkalan merupakan sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengoleksi, merawat, dan memamerkan objek-objek bernilai sejarah, seni, budaya, atau ilmu pengetahuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi dan menganalisis metode penerjemahan mengguakan teori Newmark (1988). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerjemah menggunakan beberapa metode penerjemahan seperti metode penerjemahan harfiah, metode penerjemahan setia (faithful), metode penerjemahan semantis, dan metode penerjemahan komunikatif dengan metode penerjemahan harfiah yang paling dominan digunakan. Kata kunci: budaya, museum, penerjemahan, pelabelan, koleksi
Copyrights © 2024