Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) adalah pilar ketahanan keluarga, namun kelompok ini seringkali menghadapi keterbatasan akses pada sumber daya pendidikan dan sarana pemulihan psikososial. Perpustakaan komunitas di Serikat PEKKA Kabupaten Cianjur memiliki potensi signifikan sebagai pusat pemberdayaan, tetapi kondisinya masih pasif, cenderung menjadi 'gudang buku', dan belum mampu menyediakan layanan relevan seperti mengatasi stres dan kejenuhan anggota. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pendampingan sistematis yang mengoptimalkan fungsi perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan dan layanan biblioterapi yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), melibatkan mitra secara aktif dalam setiap tahapan program. Model pendampingan yang diterapkan, yaitu "Karya Puspa" (Komunitas Aktif Perpustakaan Partisipatif), terdiri dari lima tahap: Sosialisasi, Pelatihan (manajemen perpustakaan dan teknis biblioterapi), Pendampingan (optimalisasi fisik dan implementasi layanan), Penerapan Teknologi (otomasi perpustakaan) dan Evaluasi partisipatif. Hasilnya menunjukkan bahwa Model Karya Puspa efektif mentransformasi perpustakaan menjadi pusat layanan yang fungsional. Peningkatan kapasitas kader terbukti signifikan, dibuktikan dengan meningkatnya skor rata-rata 1,54 (sangat tidak mampu) menjadi 3,01 (cukup mampu). Pendekatan PAR dan pelatihan yang intensif menumbuhkan sense of ownership yang tinggi pada mitra, memastikan perpustakaan dikelola secara mandiri dan berkelanjutan oleh kader internal PEKKA. Keberhasilan program ini menegaskan peran strategis perpustakaan komunitas sebagai social-hub yang berdampak langsung pada kesejahteraan sosial dan psikologis anggota kelompok rentan.
Copyrights © 2025